Rabu, 02 September 2015

Kesesatan Pasukan Berani Mati demi Gus Dur

Massa Pro Gus Dur masuk lagi ke Jakarta. Mereka dibekali berbagai jimat dan ilmu. Di antara pendukung Gus Dur yang memiliki daya linuwih (melebihi orang biasa) itu adalah Pasukan Berani Mati dari Banyuwangi. Pasukan berani Mati (PBM) yang dikomandani oleh Abdul Latief tersebut mulai bergerak melalui jalur darat dari Banyuwangi pada hari Minggu (18 Maret 2001). Bila gelombang pertama jumlahnya hanya 500 orang, diperkirakan jumlahnya akan terus bertambah. Pasalnya, di Banyuwangi sendiri sempat beredar formulir pernyataan kesiapan mati demi membela Gus Dur. 

Apa yang dilakukan pendukung Gus Dur itu paling kurang ada 2 pelanggaran besar terhadap Islam. Pertama, mereka pakai jimat. Kedua, mereka siap mati demi Gus Dur.
Masalah jimat, ada larangannya, jelas:
من تعلق تميمة فقد أشرك.
Barangsiapa menggantung-gantungkan jimat maka sungguh benar-benar dia telah syirik—menyekutukan Allah, dosa terbesar-- . (Hadits Riwayat Ahmad).
إن الرقى والتمائم والتولة شرك. قالوا يا أبا عبد الرحمن هذه الرقى والتمائم قد عرفناها، فما التوالة؟ قال: شيء يصنعه النساء يتحببن به إلى أزواجهن.
" Sesungguhnya tangkal, azimat, dan tiwalah itu adalah kemusyrikan. Para sahabat kemudian bertanya: Wahai Abu Abdir Rahman, tangkal (mantra-mantra) dan jimat itu kami telah tahu, tetapi apakah yang namanya tiwalah itu? Ia menjawab: Tiwalah (pelet) adalah sesuatu yang dibuat oleh para wanita supaya dengan tiwalah (pelet) itu dicintai oleh suami-suami mereka.” (HR Ibnu Hibban dan Hakim).
   Larangan memakai aji-aji, kekebalan atau supaya dogdeng (tidak mempan dibacok):
عن عمران بن حصين رض. أن النبي ص م. رأى رجلا في يده حلقة من صفر فقال : ما هذه ؟ قال من الواهنة. فقال : انزعها فإنها لا تزيدك إلا وهنا فإنك لو مت وهي عليك ما أفلحت أبدا. (رواه أحمد بسند لا بأس به).
“Dari Imran bin Hushain ra dinyatakan, “Bahwa Nabi melihat seorang laki-laki memakai gelang kuningan di tangannya. Beliau bertanya, “Apakah ini?”  Orang itu menjawab: “Penolak lemah”. Maka bersabda Nabi kepada orang itu, “Tanggalkanlah gelang itu, karena ia tidak akan menambah kamu kecuali kelemahan, dan apabila kamu mati sedangkan ia masih di tanganmu, tentulah engkau tidak akan selamat selama-lamanya.” (HR Ahmad dan Al-Hakim dengan sanad laa ba’sa bih).         
   Adapun Pasukan Berani Mati demi Gus Dur, maka mereka itu jelas-jelas keberaniannya itu merupakan tingkah yang diingkari oleh Rasulullah saw dan pelakunya tidak diakui sebagai golongan umat Nabi Muhammad saw. Sedang kalau mati, maka ia tidak termasuk golongan umat Nabi Muhammad saw.
ليس منا من دعى إلى عصبية، وليس منا من قاتل على عصبية، وليس منا من مات على عصبية. (رواه أبو داود).
Tidak termasuk (golongan) kami, orang yang menganjurkan ‘ashobiyah (fanatisme kekabilahan, golongan dan sebagainya, pen) dan tidak termasuk (golongan) kami, orang yang berperang membela fanatisme kekabilahan, dan tidak termasuk (golongan) kami, orang yang mati mempertahankan fanatisme kekabilahan.” (HR Abu Dawud).
   Anehnya, yang menyerukan untuk berbuat seperti itu, bahkan yang mengisi jimat, kekebalan, atau ilmu yang dianggap bisa mendatangkan bala’ terhadap lawan itu justru para kiyai NU. Buktinya, KH Noer Muhammad Iskandar SQ tokoh NU, dalam suatu wawancara dengan terus terang mengakuinya:
Pertanyaan: Ilmu tersebut dimiliki lewat jimat atau benda apa?
Jawab KH Noer Muhammad Iskandar SQ: Ada yang memang bentuk ajimat, tapi kalau di pesantren kebanyakan mereka ambil dari ayat-ayat suci Al-Qur’an. Kata Nabi dulu, orang dengan membaca bismillahir rahmanir rahiem sebanyak 113 kali bisa berjalan di atas air. Nah, sebagaimana dengan membaca ayat sebanyak itu, kita bisa memiliki kekuatan tersebut. Tentu ada proses-proses lainnya.
Pertanyaan: Tekanan terhadap anggota DPR oleh massa Pro Gus Dur tampaknya juga menggunakan cara lain, misalnya, adanya Pasukan Berani Mati. Kekuatan itu diperoleh dari mana?
Jawab KH Noer Iskandar SQ: Sebenarnya dalam dunia pesantren, ilmu-ilmu semacam itu tidak aneh lagi. Karena para santri yang umumnya mendalami berbagai macam kitab agama, juga dibekali ilmu kekebalan tubuh. Kekuatan itu akan muncul sesuai dengan batin mereka sendiri.... Di samping itu, ada juga yang mendapatkan ilmu dari para ulama khos. 

Apakah ada syarat khusus?

Jawab: Biasanya mereka memperolehnya sebelum menikah, karena pada saat sebelum menikah itu ujian dan godaannya sangat berat. Kalau mereka lulus, ya ilmu itu memang cocok untuk dirinya. Di samping itu, syarat yang tak kalah penting adalah mereka mesti taat dan patuh atas perintah gurunya. Mereka itu, istilahnya nyantri. Artinya, mereka mengabdikan dirinya pada guru-gurunya itu. Batas pengabdian itu tergantung gurunya. Ada yang cuma 40 hari, tapi ada yang sampai berpuluh-puluh tahun. Makin lama dia nyantri sama gurunya, biasanya tingkat kesempurnaan itu makin baik. Dan sulit ditandingi orang lain, kecuali gurunya sendiri. (Tabloid Aksi, vol 5 no. 314, 22-28 Maret 2001, halaman 6).
  Betapa ngerinya mendengar jawaban Kyai Noer Iskandar itu. Justru yang menyebarkan ilmu kebal yang telah dilarang dalam Islam itu para Kiyai pesantren lingkungan NU. Masih pula Kiyai Iskandar menimpakannya kepada Nabi saw seolah beliau adalah seperti para kiyai yang pada hakekatnya adalah dukun-dukun itu. Na’udzubillahi min dzalik. Mau dikemanakan orang-orang NU ini oleh para Kiyai dukun yang menyebarkan perdukunannya di pesantren-pesantren dengan memperbudak santri-santrinya sampai berpuluh-puluh tahun untuk mengabdi pada sang kiyai-kiyai dukun hanya agar menjadi orang yang tidak termasuk ummat Nabi Muhammad saw itu?
   Tidak mengherankan, hasilnya seperti pengakuan Komandan Lapangan PBM (Pasukan Berani Mati) --demi Gus Dur--, Arifin Salam  dalam wawancara seperti berikut ini:

T: Apa sebenarnya tujuan anda datang ke DPR/ MPR?

J: Kami datang sebenarnya dalam rangka menggugat sekaligus minta memorandum itu dicabut. Oleh karena itu kami datang bukan untuk dukung-mendukung Gus Dur. Jadi kami datang untuk menegakkan perbuatan-perbuatan yang merusak konstitusi.

T: Maksudnya bagaimana?

J: Kami bersedia mati untuk tegaknya konstitusi. Kami teriak-teriak bukan hanya berani dalam ruangan, tapi ini benar-benar murni untuk konstitusi yang telah ditegakkan para pendiri bangsa ini. Oleh karena itu, kepergian saudara-saudara ini dari tempat yang jauh sudah direlakan isteri-isterinya. Bahkan, isteri-isteri mereka sudah siap menjadi janda.
T: Apakah kalau mati ada jaminan bahwa kubu Gus Dur akan merawat anak isteri Anda?
J: Bukan itu persoalannya, kami datang ke sini untuk memerangi pemberontak. Dan memerangi bughat (pemberontak) itu hukumnya mati syahid. Yang saya maksud para bughat itu adalah mereka yang mengacak-acak konstitusi.

T: Siapa yang anda maksud dengan bughat yang halal untuk diperangi?

J: Pelaku-pelaku bughat itu mereka yang melecehkan dan menghancurkan konstitusi, misalnya Amien Rais.Tapi bukan dia saja, lho, semua yang termasuk bughat itu mesti diperangi.

T: Berarti target dari pasukan Berani Mati ini adalah Amien Rais?

J: Bukan itu maksudnya. Tapi sejauh mana wakil rakyat ini bisa menjalankan fungsinya, sehingga tidak menjadi bughat.

T: Jadi, tuntutan Pasukan Berani Mati itu apa?

J: Kami minta agar memorandum itu dicabut, karena ini bentuk pelecehan. Bahkan, katanya, malah akan diberi memorandum kedua. Ini bisa makin gawat.

T: Apa konsekuensinya, jika permintaan itu tak dikabulkan?

J: Kami akan terus bergerak untuk mempressure DPR.
T: Mengapa begitu berani mati untuk konstitusi? Pasukan ini dibekali kekuatan apa saja?
J: Begini, ya, dasar dari keberanian mereka itu adalah religius. Di samping itu, memang mereka ada yang dibekali beberapa ilmu. Misalnya ilmu kekebalan tubuh, dan ilmu anti peluru.

T: Apakah ilmu dari kekuatan ini efektif untuk menangkal berbagai serangan aparat?

J: Kita bukan untuk melawan aparat, tapi ilmu itu akan keluar dengan sendirinya, artinya muncul seiring aksi yang spontan.

T: Dari mana mereka mendapat ilmu kekebalan itu?

J: Dalam hal ini mereka ada yang memiliki secara sendiri-sendiri, ada yang melakukan lewat puasa selama seminggu, satu bulan. Dan, ada yang memang diisi.

T: Berapa jumlah PBM yang siap tempur?

J: Semua total sekitar 500 orang. Yang datang ke DPR/MPR hanya 45 orang. Sedang sisanya ditempatkan di beberapa lokasi yang rawan, misalnya Istana, Monas, Kramat dan lain-lainnya.

T: Seberapa kuat tingkat kekebalan mereka pada senjata?

J: Kalau memang anda mau lihat, saya akan panggil beberapa orang, silakan anda sendiri yang melakukannya, misalnya pakai pedang, golok, pistol, benda-benda lainnya.

T: Kapan PBM ini pulang?

J: Tergantung situasi.

T: Apa kaitan PBM dengan PBNU?

J: Saya pikir, kami tidak ada ikatan dengan PBNU. Jadi, kami tidak tergantung dari PBNU.

T: PBM ini kebanyakan personilnya dari mana saja?

J: Sebagian besar dari Banyuwangi. Dan, kedatangan kami semata-mata untuk menegakkan konstitusi. Kami ingin agar konstitusi ini dihormati semua pihak. (Aksi, 22 Maret 2001, halaman 5.). 
    Ada bebarapa masalah yang dilakukan oleh Pasukan Berani Mati itu. Katanya untuk membela konstitusi, tetapi mengaku berjihad melawan apa yang mereka namakan bughat (pemberontak), lalu menghalalkan darah Amien Rais dan lain-lain yang mereka anggap bughat.
    Di samping mereka telah melanggar aturan terbesar dalam Islam yaitu larangan kemusyrikan karena mereka memakai kekebalan, dan memamerkannya sampai mau beratraksi di depan wartawan, masih pula menghalalkan darah Amien Rais ketua MPR dan orang-orang DPR lainnya. Betapa besar dosa yang dipikul oleh para kiyai dukun dan kiyai-kiyai provokator yang telah mengisi kekebalan dan menyuruh atau mengizinkan 500-an Pasukan Berani Mati demi Gus Dur ini. Keizinan dengan menghalalkan darah seorang muslim tanpa haq itu saja kalau sampai terlaksana insya Allah sudah bisa memasukkan neraka selama-lamanya. Belum lagi masalah kemusyrikan yang mereka sebarkan, dan juga isian aji-aji dogdeng (ilmu kebal). Belum lagi keterjerumusan Pasukan Berani Mati ini. Semua itu dosanya melimpah pula kepada para kiyai-kiyai dukunnya dan para provokatornya. Belum lagi pengajaran salah tentang bughat yang mereka tanamkan kepada orang awam yang dijadikan Pasukan Berani Mati demi Gus Dur.

Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar