Massa Pro Gus Dur masuk lagi ke Jakarta.
Mereka dibekali berbagai jimat dan ilmu. Di antara pendukung Gus Dur yang
memiliki daya linuwih (melebihi orang biasa) itu adalah Pasukan Berani
Mati dari Banyuwangi. Pasukan berani Mati (PBM) yang dikomandani oleh Abdul
Latief tersebut mulai bergerak melalui jalur darat dari Banyuwangi pada hari
Minggu (18 Maret 2001). Bila gelombang pertama jumlahnya hanya 500 orang,
diperkirakan jumlahnya akan terus bertambah. Pasalnya, di Banyuwangi sendiri
sempat beredar formulir pernyataan kesiapan mati demi membela Gus Dur.
Apa yang dilakukan pendukung Gus Dur
itu paling kurang ada 2 pelanggaran besar terhadap Islam. Pertama, mereka pakai
jimat. Kedua, mereka siap mati demi Gus Dur.
Masalah jimat, ada larangannya,
jelas:
من تعلق تميمة فقد أشرك.
“Barangsiapa menggantung-gantungkan jimat maka
sungguh benar-benar dia telah syirik—menyekutukan Allah, dosa terbesar-- .
(Hadits Riwayat Ahmad).
إن الرقى والتمائم والتولة شرك. قالوا يا أبا عبد الرحمن هذه الرقى والتمائم
قد عرفناها، فما التوالة؟ قال: شيء يصنعه النساء يتحببن به إلى أزواجهن.
" Sesungguhnya
tangkal, azimat, dan tiwalah itu adalah kemusyrikan. Para sahabat kemudian
bertanya: Wahai Abu Abdir Rahman, tangkal (mantra-mantra) dan jimat itu kami
telah tahu, tetapi apakah yang namanya tiwalah itu? Ia menjawab: Tiwalah (pelet)
adalah sesuatu yang dibuat oleh para wanita supaya dengan tiwalah (pelet) itu
dicintai oleh suami-suami mereka.” (HR Ibnu Hibban dan Hakim).
Larangan memakai aji-aji, kekebalan atau supaya
dogdeng (tidak mempan dibacok):
عن عمران بن حصين رض. أن النبي ص م. رأى رجلا في يده حلقة من صفر فقال : ما
هذه ؟ قال من الواهنة. فقال : انزعها فإنها لا تزيدك إلا وهنا فإنك لو مت وهي عليك
ما أفلحت أبدا. (رواه أحمد بسند لا بأس به).
“Dari Imran bin Hushain ra dinyatakan, “Bahwa
Nabi melihat seorang laki-laki memakai gelang kuningan di tangannya. Beliau
bertanya, “Apakah ini?” Orang itu menjawab: “Penolak lemah”. Maka bersabda Nabi
kepada orang itu, “Tanggalkanlah gelang itu, karena ia tidak akan menambah kamu
kecuali kelemahan, dan apabila kamu mati sedangkan ia masih di tanganmu,
tentulah engkau tidak akan selamat selama-lamanya.” (HR Ahmad dan Al-Hakim
dengan sanad laa ba’sa bih).
Adapun Pasukan Berani Mati demi Gus Dur, maka mereka itu
jelas-jelas keberaniannya itu merupakan tingkah yang diingkari oleh Rasulullah
saw dan pelakunya tidak diakui sebagai golongan umat Nabi Muhammad saw. Sedang
kalau mati, maka ia tidak termasuk golongan umat Nabi Muhammad saw.
ليس منا من دعى إلى عصبية، وليس منا من قاتل على عصبية، وليس منا من مات على
عصبية. (رواه أبو داود).
“Tidak termasuk (golongan) kami, orang
yang menganjurkan ‘ashobiyah (fanatisme kekabilahan, golongan dan sebagainya,
pen) dan tidak termasuk (golongan) kami, orang yang berperang membela fanatisme
kekabilahan, dan tidak termasuk (golongan) kami, orang yang mati mempertahankan
fanatisme kekabilahan.” (HR Abu Dawud).
Anehnya, yang menyerukan untuk berbuat
seperti itu, bahkan yang mengisi jimat, kekebalan, atau ilmu yang dianggap bisa
mendatangkan bala’ terhadap lawan itu justru para kiyai NU. Buktinya, KH Noer
Muhammad Iskandar SQ tokoh NU, dalam suatu wawancara dengan terus terang
mengakuinya:
Pertanyaan: Ilmu tersebut
dimiliki lewat jimat atau benda apa?
Jawab KH Noer Muhammad Iskandar SQ: Ada
yang memang bentuk ajimat, tapi kalau di pesantren kebanyakan mereka ambil dari
ayat-ayat suci Al-Qur’an. Kata Nabi dulu, orang dengan membaca bismillahir
rahmanir rahiem sebanyak 113 kali bisa berjalan di atas air. Nah,
sebagaimana dengan membaca ayat sebanyak itu, kita bisa memiliki kekuatan
tersebut. Tentu ada proses-proses lainnya.
Pertanyaan: Tekanan
terhadap anggota DPR oleh massa Pro Gus Dur tampaknya juga menggunakan cara
lain, misalnya, adanya Pasukan Berani Mati. Kekuatan itu diperoleh dari
mana?
Jawab KH Noer Iskandar SQ: Sebenarnya
dalam dunia pesantren, ilmu-ilmu semacam itu tidak aneh lagi. Karena para santri
yang umumnya mendalami berbagai macam kitab agama, juga dibekali ilmu kekebalan
tubuh. Kekuatan itu akan muncul sesuai dengan batin mereka sendiri.... Di
samping itu, ada juga yang mendapatkan ilmu dari para ulama khos.
Apakah ada syarat khusus?
Jawab: Biasanya mereka memperolehnya
sebelum menikah, karena pada saat sebelum menikah itu ujian dan godaannya sangat
berat. Kalau mereka lulus, ya ilmu itu memang cocok untuk dirinya. Di samping
itu, syarat yang tak kalah penting adalah mereka mesti taat dan patuh atas
perintah gurunya. Mereka itu, istilahnya nyantri. Artinya, mereka mengabdikan
dirinya pada guru-gurunya itu. Batas pengabdian itu tergantung gurunya. Ada yang
cuma 40 hari, tapi ada yang sampai berpuluh-puluh tahun. Makin lama dia nyantri
sama gurunya, biasanya tingkat kesempurnaan itu makin baik. Dan sulit ditandingi
orang lain, kecuali gurunya sendiri. (Tabloid Aksi, vol 5 no. 314, 22-28
Maret 2001, halaman 6).
Betapa ngerinya mendengar jawaban Kyai
Noer Iskandar itu. Justru yang menyebarkan ilmu kebal yang telah dilarang dalam
Islam itu para Kiyai pesantren lingkungan NU. Masih pula Kiyai Iskandar
menimpakannya kepada Nabi saw seolah beliau adalah seperti para kiyai yang pada
hakekatnya adalah dukun-dukun itu. Na’udzubillahi min dzalik. Mau
dikemanakan orang-orang NU ini oleh para Kiyai dukun yang menyebarkan
perdukunannya di pesantren-pesantren dengan memperbudak santri-santrinya sampai
berpuluh-puluh tahun untuk mengabdi pada sang kiyai-kiyai dukun hanya agar
menjadi orang yang tidak termasuk ummat Nabi Muhammad saw itu?
Tidak mengherankan, hasilnya seperti
pengakuan Komandan Lapangan PBM (Pasukan Berani Mati) --demi Gus Dur--, Arifin
Salam dalam wawancara seperti berikut ini:
T: Apa sebenarnya tujuan anda datang ke DPR/ MPR?
J: Kami
datang sebenarnya dalam rangka menggugat sekaligus minta memorandum itu dicabut.
Oleh karena itu kami datang bukan untuk dukung-mendukung Gus Dur. Jadi kami
datang untuk menegakkan perbuatan-perbuatan yang merusak konstitusi.
T: Maksudnya bagaimana?
J: Kami
bersedia mati untuk tegaknya konstitusi. Kami teriak-teriak bukan hanya berani
dalam ruangan, tapi ini benar-benar murni untuk konstitusi yang telah ditegakkan
para pendiri bangsa ini. Oleh karena itu, kepergian saudara-saudara ini dari
tempat yang jauh sudah direlakan isteri-isterinya. Bahkan, isteri-isteri mereka
sudah siap menjadi janda.
T:
Apakah kalau mati ada jaminan bahwa kubu Gus Dur akan merawat anak isteri Anda?
J: Bukan itu
persoalannya, kami datang ke sini untuk memerangi pemberontak. Dan memerangi
bughat (pemberontak) itu hukumnya mati syahid. Yang saya maksud para
bughat itu adalah mereka yang mengacak-acak konstitusi.
T: Siapa yang anda maksud dengan bughat yang halal untuk diperangi?
J:
Pelaku-pelaku bughat itu mereka yang melecehkan dan menghancurkan
konstitusi, misalnya Amien Rais.Tapi bukan dia saja, lho, semua yang termasuk
bughat itu mesti diperangi.
T: Berarti target dari pasukan Berani Mati ini adalah Amien Rais?
J: Bukan itu
maksudnya. Tapi sejauh mana wakil rakyat ini bisa menjalankan fungsinya,
sehingga tidak menjadi bughat.
T: Jadi, tuntutan Pasukan Berani Mati itu apa?
J: Kami minta
agar memorandum itu dicabut, karena ini bentuk pelecehan. Bahkan, katanya, malah
akan diberi memorandum kedua. Ini bisa makin gawat.
T: Apa konsekuensinya, jika permintaan itu tak dikabulkan?
J: Kami akan
terus bergerak untuk mempressure DPR.
T: Mengapa
begitu berani mati untuk konstitusi? Pasukan ini dibekali kekuatan apa
saja?
J: Begini, ya, dasar dari keberanian
mereka itu adalah religius. Di samping itu, memang mereka ada yang dibekali
beberapa ilmu. Misalnya ilmu kekebalan tubuh, dan ilmu anti peluru.
T: Apakah ilmu dari kekuatan ini efektif untuk menangkal berbagai serangan aparat?
J: Kita bukan
untuk melawan aparat, tapi ilmu itu akan keluar dengan sendirinya, artinya
muncul seiring aksi yang spontan.
T: Dari mana mereka mendapat ilmu kekebalan itu?
J: Dalam hal
ini mereka ada yang memiliki secara sendiri-sendiri, ada yang melakukan lewat
puasa selama seminggu, satu bulan. Dan, ada yang memang diisi.
T: Berapa jumlah PBM yang siap tempur?
J: Semua
total sekitar 500 orang. Yang datang ke DPR/MPR hanya 45 orang. Sedang sisanya
ditempatkan di beberapa lokasi yang rawan, misalnya Istana, Monas, Kramat dan
lain-lainnya.
T: Seberapa kuat tingkat kekebalan mereka pada senjata?
J: Kalau
memang anda mau lihat, saya akan panggil beberapa orang, silakan anda sendiri
yang melakukannya, misalnya pakai pedang, golok, pistol, benda-benda lainnya.
T: Kapan PBM ini pulang?
J: Tergantung
situasi.
T: Apa kaitan PBM dengan PBNU?
J: Saya
pikir, kami tidak ada ikatan dengan PBNU. Jadi, kami tidak tergantung dari PBNU.
T: PBM ini kebanyakan personilnya dari mana saja?
J: Sebagian
besar dari Banyuwangi. Dan, kedatangan kami semata-mata untuk menegakkan
konstitusi. Kami ingin agar konstitusi ini dihormati semua pihak. (Aksi,
22 Maret 2001, halaman 5.).
Ada bebarapa masalah yang dilakukan
oleh Pasukan Berani Mati itu. Katanya untuk membela konstitusi, tetapi mengaku
berjihad melawan apa yang mereka namakan bughat (pemberontak), lalu
menghalalkan darah Amien Rais dan lain-lain yang mereka anggap
bughat.
Di samping mereka telah melanggar aturan terbesar dalam
Islam yaitu larangan kemusyrikan karena mereka memakai kekebalan, dan
memamerkannya sampai mau beratraksi di depan wartawan, masih pula menghalalkan
darah Amien Rais ketua MPR dan orang-orang DPR lainnya. Betapa besar dosa yang
dipikul oleh para kiyai dukun dan kiyai-kiyai provokator yang telah mengisi
kekebalan dan menyuruh atau mengizinkan 500-an Pasukan Berani Mati demi Gus Dur
ini. Keizinan dengan menghalalkan darah seorang muslim tanpa haq itu saja kalau
sampai terlaksana insya Allah sudah bisa memasukkan neraka
selama-lamanya. Belum lagi masalah kemusyrikan yang mereka sebarkan, dan juga
isian aji-aji dogdeng (ilmu kebal). Belum lagi keterjerumusan Pasukan
Berani Mati ini. Semua itu dosanya melimpah pula kepada para kiyai-kiyai
dukunnya dan para provokatornya. Belum lagi pengajaran salah tentang bughat
yang mereka tanamkan kepada orang awam yang dijadikan Pasukan Berani Mati
demi Gus Dur.
Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz
Kunjungi juga:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar