Orang-orang ahli tasawuf –khususnya yang ada di zaman sekarang- mempunyai prinsip
dasar dan metode khusus dalam memahami dan menjalankan agama ini, yang sangat
bertentangan dengan prinsip dan metode Ahlusunnah wal Jamaah, dan menyimpang
sangat jauh dari Al Quran dan As Sunnah. Mereka membangun keyakinan dan tata
cara peribadatan mereka di atas simbol-simbol dan istilah-istilah yang mereka
ciptakan sendiri, yang dapat kita simpulkan sebagai berikut:
Pertama, mereka membatasi
ibadah hanya pada aspek Mahabbah (kecintaan) saja dan mengenyampingkan
aspek-aspek yang lainnya, seperti aspek Khauf (rasa takut) dan
Raja’ (harapan), sebagaimana yang terlihat dalam ucapan beberapa orang
ahli tasawuf, “Aku beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla bukan karena aku
mengharapkan masuk surga dan juga bukan karena takut masuk neraka!?” Memang
benar bahwa aspek Mahabbah adalah landasan berdirinya ibadah, akan tetapi ibadah
itu tidak hanya terbatas pada aspek Mahabbah saja –sebagaimana yang disangka
oleh orang-orang ahli tasawuf–, karena ibadah itu memiliki banyak jenis dan
aspek yang melandasinya selain aspek Mahabbah, seperti aspek khauf, raja’, dzull
(penghinaan diri), khudhu’ (ketundukkan), doa dan aspek-aspek
lain.
Salah seorang ulama Salaf berkata:
“Barang siapa yang beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan kecintaan
semata maka dia adalah seorang zindiq, dan barang siapa yang beribadah kepada
Allah dengan pengharapan semata maka dia adalah seorang Murji’ah, dan barang
siapa yang beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan ketakutan semata maka
dia adalah seorang Haruriyyah (Khawarij), dan barang siapa yang beribadah kepada
Allah ‘Azza wa Jalla dengan kecintaan, ketakutan dan pengharapan maka dialah
seorang mukmin sejati dan muwahhid (orang yang bertauhid dengan benar).”
Oleh karena itu Allah ‘Azza wa Jalla memuji sifat para Nabi dan
Rasul-Nya, yang mereka senantiasa berdoa kepada-Nya dengan perasaan takut dan
berharap, dan mereka adalah orang-orang yang selalu mengharapkan rahmat-Nya dan
takut akan siksaan-Nya.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:
“Kebanyakan orang-orang yang menyimpang (dari jalan Allah), orang-orang yang
mengikuti ajaran-ajaran bid’ah berupa sikap zuhud dan ibadah-ibadah yang tidak
dilandasi ilmu dan tidak sesuai dengan petunjuk dari Al Quran dan As Sunnah,
mereka terjerumus
ke dalam kesesatan seperti yang terjadi pada orang-orang Nasrani yang
mengaku-ngaku mencintai Allah, yang bersamaan dengan itu mereka menyimpang dari
syariat-Nya dan enggan untuk bermujahadah (bersungguh-sungguh) dalam menjalankan
agama-Nya, dan penyimpangan-penyimpangan lainnya.” (Kitab Al ‘Ubudiyyah, tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
[hal. 90], cet. Darul Ifta’, Riyadh).
Dari uraian di atas jelaslah bahwa
membatasi ibadah hanya pada aspek Mahabbah saja tidaklah disebut ibadah, bahkan
ajaran ini bisa menjerumuskan penganutnya ke jurang kesesatan bahkan menyebabkan
dia keluar dari agama islam.
Kedua, orang-orang ahli tasawuf
umumnya dalam menjalankan agama dan melaksanakan ibadah tidak berpedoman kepada
Al Quran dan As Sunnah, tapi yang mereka jadikan pedoman adalah bisikan jiwa dan
perasaan mereka dan ajaran yang digariskan oleh pimpinan-pimpinan mereka, berupa
thariqat-thariqat bid’ah, berbagai macam zikir dan wirid yang mereka ciptakan
sendiri, dan tidak jarang mereka mengambil pedoman dari cerita-cerita (yang
tidak jelas kebenarannya), mimpi-mimpi, bahkan hadits-hadits yang palsu untuk
membenarkan ajaran dan keyakinan mereka. Inilah landasan ibadah dan keyakinan
ajaran Tasawuf.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata,
“Orang-orang ahli Tasawuf dalam beragama dan mendekatkan diri kepada Allah
‘Azza wa Jalla berpegang teguh pada suatu pedoman seperti pedoman yang
dipegang oleh orang-orang Nasrani, yaitu ucapan-ucapan yang tidak jelas
maknanya, dan cerita-cerita yang bersumber dari orang yang tidak dikenal
kejujurannya, kalaupun ternyata orang tersebut jujur, tetap saja dia bukan
seorang (Nabi/Rasul) yang terjaga dari kesalahan, maka (demikian pula yang
dilakukan orang-orang ahli Tasawuf) mereka menjadikan para pemimpin dan guru
mereka sebagai penentu/pembuat syariat agama bagi mereka, sebagaimana
orang-orang Nasrani menjadikan para pendeta dan rahib mereka sebagai
penentu/pembuat syariat agama bagi mereka.”
Ketiga, termasuk doktrin ajaran
Tasawuf adalah keharusan berpegang teguh dan menetapi zikir-zikir dan
wirid-wirid yang ditentukan dan diciptakan oleh guru-guru thariqat mereka, yang
kemudian mereka menetapi dan mencukupkan diri dengan zikir-zikir tersebut,
beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan selalu
membacanya, bahkan tidak jarang mereka mengklaim bahwa membaca zikir-zikir
tersebut lebih utama daripada membaca Al Quran, dan mereka menamakannya
dengan “zikirnya orang-orang
khusus.”
Adapun zikir-zikir yang tercantum dalam Al Quran dan As Sunnah
mereka namakan dengan “zikirnya orang-orang umum”, maka kalimat
(Laa Ilaha Illallah) menurut mereka adalah “zikirnya orang-orang
umum”, adapun “zikirnya orang-orang khusus” adalah kata tunggal
“Allah” dan “zikirnya orang-orang khusus yang lebih khusus”
adalah kata (Huwa/Dia).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
“Barang siapa yang menyangka bahwa kalimat (Laa Ilaha Illallah) adalah
zikirnya orang-orang umum, dan zikirnya orang-orang khusus adalah kata tunggal
“Allah”, serta zikirnya orang-orang khusus yang lebih khusus adalah
kata ganti (Huwa/Dia), maka dia adalah orang yang sesat dan
menyesatkan. Di antara mereka ada yang berdalil untuk membenarkan hal ini, dengan
firman Allah ‘Azza wa Jalla :
“ Dan mereka tidak menghormati Allah
dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: "Allah tidak
menurunkan sesuatupun kepada manusia." Katakanlah: "Siapakah yang menurunkan
kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia,
kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu
perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal
telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak
mengetahui(nya) ?" Katakan: Allah (yang
menurunkannya), kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka),
biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.” (QS. Al
An’aam: 91)
(Berdalil dengan cara seperti ini) adalah kesalahan yang paling
nyata yang dilakukan oleh orang-orang ahli Tasawuf, bahkan ini termasuk
menyelewengkan ayat Al Quran dari maknanya yang sebenarnya, karena sesungguhnya
kata “Allah” dalam ayat ini disebutkan dalam kalimat perintah untuk menjawab
pertanyaan sebelumnya, yaitu yang Allah ‘Azza wa Jalla dalam
firman-Nya:
“ Dan mereka tidak menghormati Allah
dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: "Allah tidak
menurunkan sesuatupun kepada manusia." Katakanlah: Siapakah yang
menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi
manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang terpisah-pisah,
kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal
telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapakmu tidak mengetahuinya?
Katakanlah: Allah (yang menurunkannya), kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran
kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.” (QS. Al
An’aam: 91)
Jadi maknanya yang benar adalah: “Katakanlah: Allah, Dialah
yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Nabi Musa shallallahu ‘alaihi wa
sallam.” (Kitab
Al
‘Ubudiyyah hal.
117).
[1] Ringkasan dari satu pembahasan
yang ditulis oleh Syaikh Shalih Al Fauzan dalam kitabnya “Haqiqat At Tashawwuf”, pembahasan: Mauqif Ash Shufiyyah Min Al ‘Ibadah wa
Ad Din (hal. 17-38)
dengan sedikit perubahan.
HAKIKAT TASAWUF
Oleh :Ustadz Abdullah Taslim, Lc.
(Mahasiswa S2 Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah)
Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar