penglihatan kita tentang kedudukan keempat ayat ini di dalam surat Al-Bara’ah
(At-Taubah), khusus membicarakan orang-orang munafiq. Bahwa selain daripada
munafiq yang hendak membunuh beliau (Nabi saw) di tempat curang di perjalanan
pulang, ada pula yang menjadi kaki tangan asing (subversi) di Madinah sendiri,
dengan membuat camouflase (pura-pura) mendirikan masjid, padahal masjid
palsu itu hendak dijadikan markas apabila tentara Rum datang.
Selanjutnya Hamka mengemukakan: Setelah kita ketahui tadi siapa Abu ‘Amir
Ar-Rahib dan kita pertalikan dengan 12 orang munafik yang menjadi kaki
tangannya di Madinah itu, mengertilah kita sekarang bagaimana duduk soal Masjid
baru ini didirikan ialah dengan 4 maksud jahat. Pertama, hendak membuat
dhiraar. Artinya bencana atau bahaya. Terutama ialah bahaya niat jahat
dan pengkhianatan yang dipelopori oleh seorang kafir yang telah mengkhianati
kaumnya. Abu ‘Amir bukan saja munafiq lagi, tetapi lebih dari itu, musuh besar
kaki tangan Kerajaan lain. Yang munafiq ialah 12 orang penyambutnya di Madinah
itu. Yang kedua, niscaya teranglah bahwa maksud mendirikan masjid ini
bukan dari iman, tetapi dari kufur. Ketiga, dengan mendirikan masjid ini
masyarakat yang tadinya satu menjadi pecah. Yang keempat, telah terang
lagi puncak kejahatan tertinggi dari maksud itu, yaitu hendak dijadikan tempat
pengintip (irshad) gerak-gerik Rasul dan orang-orang beriman, yang menjadi
anjuran dari Abu ‘Amir tadi. Yaitu orang yang sejak sebelumnya memang telah
memerangi Allah dan Rasul-Nya, sejak perang Uhud sampai perang Hawazin dan
berharap Madinah diserang Rum, supaya dengan paksa penduduk Madinah dapat
dijadikan pemeluk Nasrani. Mungkin ada niat jika mereka menang, masjid itu
langsung kelak dijadikan gereja dengan pengakuan kerajaan Rum, dan Abu ‘Amir
diangkat menjadi Uskupnya.
Kemudian datanglah sambungan ayat: “Namun mereka akan bersumpah, tidak ada
maksud kami, kecuali kebaikan.” Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu
Katsir, seketika mengundang Nabi saw supaya sudi shalat di sana, mereka
menyatakan bahwa maksud mendirikan masjid itu adalah baik, yaitu untuk
orang-orang lemah, atau orang sakit atau orang yang tidak tahan dingin keluar
malam di musim dingin. Pendeknya ada-ada saja alasan yang mereka kemukakan.
“Dan Allah menyaksikan, sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang
berdusta.” (ujung ayat 107).
“Jangan engkau shalat padanya selama-lamanya” (pangkal ayat
108). Inilah larangan tegas dari Allah kepada Rasul saw, supaya sekali-kali
jangan shalat ke sana, walaupun sebelum berangkat ke Tabuk sudah dijanjikan akan
shalat ke sana, sebab Rasul saw waktu itu belum diberi tahu oleh Allah, dan
beliau pun tengah repot. Malahan setelah mendapat wahyu ini, demi mengetahui
keempat maksud jahat yang terkandung di dalam mendirikan masjid itu, terus
Rasulullah saw memerintahkan beberapa orang sahabat pergi ke tempat itu dan
segera meruntuhkan masjid berbahaya (dhiraar) itu, sampai rata dengan
bumi.
Mencuri keimanan dan pemurtadan
Kisah
yang diabadikan dalam Al-Qur’an itu merupakan contoh nyata betapa liciknya musuh
Islam yang bersekongkol dengan kekuatan kekaisaran Rum Nasrani serta orang dalam
negeri yang munafiq untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslimin. Berbagai dalih
dan alasan dikemukakan, seolah pembangunan masjid dhiraar itu adalah satu
bentuk upaya mensejahterakan Ummat, meringankan beban Ummat, membantu
orang-orang lemah, orang-orang yang tak tahan dingin, dan sebagainya. Model masa
kini, misalnya berkedok membantu orang-orang yang berekonomi lemah, membantu
pengobatan secara gratis, mengadakan nasi murah, bantuan makanan-makan seperti
mie, paket sembako dan sebagainya yang sifatnya berkedok kemanusiaan namun pada
dasarnya adalah mencuri keimanan atau memurtadkan.
Persekongkolan antara musuh Islam dari dalam negeri dengan kekuatan besar di
luar negeri kemudian dijalin secara berkelindan dengan munafiqin-munafiqin dalam
negeri adalah satu model yang pas dalam gambaran Al-Qur’an tersebut, yang kalau
model sekarang adalah berbentuk proposal yang telah rapi, kemudian diujudkan
dalam program suatu proyek yang diberi jangka waktu secara terinci. Data-data
pun dikompliti, disertai foto-foto dan petanya, serta program-program yang telah
dirinci jangka waktunya, beayanya, dan prediksi hasil pemurtadannya.
Program canggih yang serba komputerise itu pun masih dicarikan dekengan dan
dukungan sana sini, kalau bisa sampai ke titik puncak pimpinan, baik di dalam
maupun di luar.
Semangat tinggi untuk memurtadkan kaum Muslimin itu tidak bisa dipungkiri, baik
secara kenyataan maupun secara khabar kepastian dari wahyu Allah, sebagaimana
yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa sebagian besar Ahli Kitab (Yahudi
dan Nasrani) itu ingin memurtadkan kaum Muslimin karena kedengkian dari diri
mereka. Ayatnya sebagai berikut:
“Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat
mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang
(timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.”
(Al-Baqarah: 109).
Tafsir Departemen Agama menjelaskan: Ayat ini mengandung peringatan kepada
orang-orang Islam agar supaya mereka waspada terhadap tipu muslihat Ahli Kitab.
Tipu muslihat yang mereka lakukan itu adakalanya dengan jalan mengeruhkan ajaran
Islam, dan adakalanya dengan menimbul-nimbulkan keragu-raguan di kalangan Ummat
Islam sendiri.
Mereka
melakukan tipu muslihat itu disebabkan karena kedengkian semata, tidak timbul
dari pandangan yang bersih. Kedengkian mereka bukanlah karena keragu-raguan
mereka terhadap kandungan isi Al-Qur’aan, atau bukan karena didorong oleh
kebenaran yang terdapat dalam Kitab Taurat, akan tetatapi disebabkan karena
dorongan hawa nafsu, kemerosotan mental dan kedongkolan hati mereka. Itulah
sebabnya maka mereka terjerumus dalam lembah kesesatan dan kebatilan.
Dalam ayat lain lebih ditegaskan lagi:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu
mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk
(yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah
pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan
penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120).
Dalam
menafsirkan ayat itu, Kiai Misbahul Musthofa Bangilan Tuban dalam kitab
tafsirnya, Tajul Muslimin, berbahasa Jawa dengan tulisan Arab Pegon,
menjelaskan dengan memberikan tanbih (peringatan/ perhatian) sebagai
berikut:
“Ayat
ini walaupun yang diucapi itu Nabi Muhammad saw, tetapi yang dimaksud yaitu
ummatnya Nabi, yakni Ummat Islam, karena tidak mungkin kalau Nabi Muhammad itu
ikut terhadap kesenangan nafsu orang Yahudi dan Nasrani.
Jadi
dengan ayat ini, Ummat Islam harus mengerti kalau orang Yahudi dan orang Nasrani
itu tidak puas, tidak henti-hentinya dalam upaya supaya Ummat Islam menjadi
Yahudi atau Nasrani. Macam-macam tipu daya dari dua golongan ini, guna
mempengaruhi Ummat Islam.
Kalau
Ummat Islam sampai terjerat ikut, maka tidak akan ada yang menolongnya atau
menjaganya dari siksa Allah. Dan dengan adanya ayat ini, Ummat Islam harus hidup
pakai garis Islam, yaitu garis-garis yang ditentukan oleh Al-Qur’an. Sebaliknya,
kalau Ummat Islam bersedia mengikuti petunjuk Allah Ta’ala maka dirinya akan
mendapatkan pertolongan dari Allah Ta’ala.
Peringatan yang lebih tandas lagi dikemukakan oleh Prof Dr Hamka sebagai
berikut:
“Dan
dengan ayat ini kita telah diberi peringatan, bahwasanya Lan tardha,
sekali-kali tidak akan ridha Yahudi dan Nasrani sebelum kita mengikuti agama
mereka. Menurut loghat, huruf Lan itu berarti Nafyin- waistiqbalin,
yaitu mereka tidak akan ridha, tidak, untuk selama-lamanya.
Ayat
ini telah memberikan pesan dan pedoman kepada kita, buat terus menerus sampai
hari kiamat, bahwasanya di dalam dunia ini akan tetap terus ada perlombaan
merebut pengaruh dan menanamkan kekuasaan agama. Ayat ini telah memberi ingat
kepada kita, bahwasanya tidaklah begitu penting bagi Yahudi dan Nasrani
meyahudikan dan menasranikan orang yang belum beragama, tetapi yang lebih
penting ialah meyahudikan dan menasranikan pengikut Nabi Muhammad saw sendiri.
Sebab kalau Islam merata di seluruh dunia ini, pengaruh kedua agama itu akan
hilang. Sebab apabila akidah Islamiyah telah merata dan diinsafi, kedua agama
itu akan ditelannya. Sebab pemeluk Islam berarti kembali kepada hakikat ajaran
yang sejati daripada Nabi Musa dan Nabi Isa. Niscaya pemeluk kedua golongan itu
tidak senang, sebab agama yang mereka peluk itu telah mereka pandang sebagai
golongan yang wajib dipertahankan. Dengan tidak usah mengaji lagi benar atau
tidak benar.
Menurut Hamka, isyarat yang diberikan oleh ayat inilah yang telah kita temui
dalam perjalanan sejak Islam bangkit dan tersebar di muka bumi ini sampai
sekarang. Kalau sekiranya kita lihat kegiatan pengkristenan yang begitu hebat,
sejak dari Perang Salib pertama pada 900 tahun yang lalu, sampai kepada ekspansi
zending dan missi Protestan dan Katholik ke negeri-negeri Islam dengan
membelanjakan uang berjuta-juta Dolar untuk mengkristenkan agama Islam, semuanya
ini adalah isyarat yang telah diberikan oleh ayat ini, bahawasanya mereka belum
ridha dan belum bersenang hati, sebelum umat Muhammad menurut agama
mereka.
Pekerjaan mereka itu berhasil pada negeri-negeri yang orang Islamnya hanya pada
nama, tetapi tidak mengerti asli pelajarannya. Kadang-kadang mereka berkata,
biarkanlah orang Islam itu memeluk agama Islam pada lahir, asal kebatinan mereka
telah tertukar jadi Kristen.
Orang
Yahudi tidaklah mengadakan zending dan missi. Pemeluk agama Yahudi lebih senang
jika agama itu hanya beredar di sekitar Bani Israel saja, sebab mereka memandang
bahwa mereka mempunyai darah istimewa. Tetapi mereka memasukkan pengaruh ajaran
mereka dari segi lain.
Bukan
saja di dunia Islam, bahkan pada dunia Kristen mereka pun mencoba memasukkan
pengaruh, sehingga merekalah yang berkuasa. Kita masih ingat bahwa dalam
kitab-kitab Perjanjian Lama yang menjadi pegangan mereka, tidak ada pengajaran
tentang hari kiamat. Agama orang Yahudi itu terlebih banyak mementingkan kepada
urusan dunia, kepada harta benda. Kehidupan riba (rente) adalah ajaran orang
Yahudi. Negeri Amerika Serikat yang begitu besar dan berpengaruh, terpaksa
menutup kantornya dua hari dalam seminggu. Bukan saja pada hari Ahad, sebagai
hari besar Kristen, tetapi Hari sabtu pun tutup. Sebab yang memegang keuangan di
Wallstreet (New York) adalah bankir-bankir Yahudi. (Kini di Indonesia ditiru
juga, sejak tahun 1996-an, bahkan kantor-kantor pemerintah pun sebagian ikut
tutup pada hari Sabtu, dan tetap buka pada Hari Jum’at, bahkan biasanya Satpam/
penjaga keamanannya sangat sulit untuk berjum’atan, sekalipun mereka Muslim dan
bekerja di Departemen Agama, pen). Sebab itu maka segala sesuatu kelancaran
ekonomi di tangan Yahudi. Sedangkan di Amerika lagi demikian, apatah lagi di
negeri-negeri lain.
Gerakan Vrijmetselar, gerakan Masoniah (Freemasonry, pen), dan beberapa gerakan
internasional yang lain, tempuknya dalam tangan Yahudi. Dunia Islam tidak perlu
masuk agama mereka, asal turutkan pengaruh mereka. Negeri-negeri Islam yang
besar-besar terpaksa mendirikan bank-bank, menjalankan niaga dan ekonomi
berdasarkan kepada riba, baik riba besar atau riba kecil; terpaksa memperlicin
hukum riba supaya bernafas untuk hidup, tidak dapat mencari jalan lain, sebab
seluruh dunia telah dikongkong oleh ajaran Yahudi.
Sedikit orang Yahudi yang berpencar-pencar di seluruh dunia dapat mendirikan
sebuah negara Yahudi, mereka beri nama Israel, di tengah-tengah negeri orang
Arab, dengan dibantu oleh Kerajaan Inggeris dan Amerika, bahkan mendapat
pengakuan pertama dari Rusia Komunis.
Semuanya inilah yang diisyaratkan oleh ayat yang tengah kita tafsirkan,
bahwasanya orang Yahudi dan Nasrani belum merasa puas hati, sebelum kita
penganut ajaran Muhammad mengikuti ajaran mereka. Ini bukanlah ancaman yang
menimbulkan takut, tetapi sebagai perangsang supaya kaum Muslimin terus berjihad
menegakkan agamanya, dan melancarkan dakwahnya. Karena selama kaum Muslimin
masih berpegang teguh kepada ajaran agama yang dipeluknya, mengamalkannya dengan
penuh kesadaran, tidaklah mereka akan runtuh lantaran usaha kedua pemeluk agama
itu. Sebab ayat telah menegaskan, bahwasanya petunjuk yang sejati tidak ada
lain, melainkan petunjuk Allah.
Tasawuf, Pluralisme, & Pemurtadan.
- H Hartono Ahmad Jaiz -
Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar