Di samping mewajibkan taqlied, NU dalam berfatwa secara resmi lewat keputusan
muktamar-muktamarnya pun tidak langsung merujuk kepada Ayat Al-qur’an maupun
matan Al-Hadits, namun hany berlandaskan kepada kitab-kitab yang mereka sebut
kitab Mu’tabaroh, yaitu kitab-kitab madzhab yang NU tentukan (akui)
sebagai rujukan. Hingga kitab-kitab tafsir ataupun hadits justru nisanya jarang
jadi rujukan.
Berikut ini contoh fatwa dari Muktamar NU tentang
membaca Manaqib (kisah) Syaikh Abdul Qadir Jaelani. Bisa kita bedakan dengan
fatwa Lajnah Da’imah di Arab ataupun bahkan fatwa ulama Indonesia sendiri yang
bukan orang NU. Berikut ini contoh Fatwa NU dalam bentuk soal jawab:
206 ما قولكم فيمن جمع جيرانه فقرأ مناقب الشيخ عبد القادر الجيلاني فمد لهم
سماطا فما حكم ذلك. هل هو حرام أو سنة أو مكروه؟ (تكال ).
ج
أما قراءة مناقب بعض الأولياء فحسن لأنه يؤدي إلى محبة الأولياء. وأما مد السماط
فسنة إذا قصد به إكرام الضيوف من كان يؤمن بالله فليكرم ضيفه كما في جلاء الظلام
على عقيدة العوام ونصه: فصل. إعلم ينبغي لكل مسلم طالب الفضل والخيرات أن يلتمس
البركات والنفحات واستجابة الدعاء ونزول الرحمات في حضرات الأولياء قي مجالسهم
وجمعهم احياء وأمواتا وعند قبورهم وحال ذكرهم وعند كثرة الجموع في زيارتهم وعند
مذاكرات فضلهم ونشر مناقبهم اه.
206 S: Bagaimana pendapat Mu’tamar, tentang orang
yang mengundang tetangganya, lalu membaca Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jilani,
lalu mengajukan makanan. Bagaimana hukumnya? Haramkah? Atau sunnah? Ataukah
Makruh? (Tegal).
Jawab: Adapun membaca Manaqibnya para wali, itu baik,
karena dapat mendatangkan kecintaan terhadap para Wali, adapun memberi makanan,
itu hukumnya sunnah, kalau dengan maksud memulkyakan tamu, dalam Hadits yang
artinya siapa yang beriman kepada Alloh, harap supaya menghormat pada tamunya.
Keterangan dari Kitab Jala-ud-Zhulam ‘Ala ‘Aqidatil Awam.
Teks dari kitab itu tidak diterjemahkan. Kalau
diterjemahkan, isinya sebagai berikut:
“Ketahuilah. Seyogyanya setiap Muslim yang mencari
keutamaan dan kebaikan-kebaikan hendaknya mencari berkah-berkah,
pemberian-pemberian, dan diijabahinya do’a dan turunnya rahmat-rahmat di hadapan
para wali di majlis-majlis dan perkumpulan-perkumpulan mereka dalam keadaan
hidup dan mati dan di sisi kubur-lubur mereka, dan ketika mengingat mereka, dan
ketika banyak orang berkumpul menziarahi mereka, ketika peringatan-peringatan
keutamaan mereka, dan penyebaran manaqib mereka. Selesai.”
Jawaban Mu’tamar NU seperti itu tidak bisa
dipertanggung jawabkan secara ilmiah Islam. Pertama, tidak diteliti dulu, apa
isi kitab Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani itu. Kedua, landasannya apa merujuk
kepada kitab Jalaud-Zulam ‘Ala ‘Aqidatil Awam yang tidak menampilkan
dalil itu. Ketiga, suruhan untuk mencari berkah kepada orang yang sudah mati dan
di kubur-kuburnya, itu landasannya apa. Nabi saw saja tidak dicari berkahnya
(para sahabat tidak bertabarruk kepada beliau) setelah beliau wafat, apalagi
kepada kuburnya.
Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz
Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar