Rabu, 02 September 2015

NU berfatwa bukan langsung dalil Al-Qur’an atau Al-Hadits

Di samping mewajibkan taqlied, NU dalam berfatwa secara resmi lewat keputusan muktamar-muktamarnya pun tidak langsung merujuk kepada Ayat Al-qur’an maupun matan Al-Hadits, namun hany berlandaskan kepada kitab-kitab yang mereka sebut kitab Mu’tabaroh, yaitu kitab-kitab madzhab yang NU tentukan (akui) sebagai rujukan. Hingga kitab-kitab tafsir ataupun hadits justru nisanya jarang jadi rujukan.

   Berikut ini contoh fatwa dari Muktamar NU tentang membaca Manaqib (kisah) Syaikh Abdul Qadir Jaelani. Bisa kita bedakan dengan fatwa Lajnah Da’imah di Arab ataupun bahkan fatwa ulama Indonesia sendiri yang bukan orang NU. Berikut ini contoh Fatwa NU dalam bentuk soal jawab:
206   ما قولكم فيمن جمع جيرانه فقرأ مناقب الشيخ عبد القادر الجيلاني فمد لهم سماطا فما حكم ذلك. هل هو حرام أو سنة أو مكروه؟ (تكال ).
       ج  أما قراءة مناقب بعض الأولياء فحسن لأنه يؤدي إلى محبة الأولياء. وأما مد السماط فسنة إذا قصد به إكرام الضيوف من كان يؤمن بالله فليكرم ضيفه كما في جلاء الظلام على عقيدة العوام ونصه: فصل. إعلم  ينبغي لكل مسلم طالب الفضل والخيرات أن يلتمس البركات والنفحات واستجابة الدعاء ونزول الرحمات في حضرات الأولياء قي مجالسهم وجمعهم احياء وأمواتا وعند قبورهم وحال ذكرهم وعند كثرة الجموع في زيارتهم وعند مذاكرات فضلهم ونشر مناقبهم اه.
206 S: Bagaimana pendapat Mu’tamar, tentang orang yang mengundang tetangganya, lalu membaca Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jilani, lalu mengajukan makanan. Bagaimana hukumnya? Haramkah? Atau sunnah? Ataukah Makruh? (Tegal).

Jawab: Adapun membaca Manaqibnya para wali, itu baik, karena dapat mendatangkan kecintaan terhadap para Wali, adapun memberi makanan, itu hukumnya sunnah, kalau dengan maksud memulkyakan tamu, dalam Hadits yang artinya siapa yang beriman kepada Alloh, harap supaya menghormat pada tamunya. Keterangan dari Kitab Jala-ud-Zhulam ‘Ala ‘Aqidatil Awam. 

   Teks dari kitab itu tidak diterjemahkan. Kalau diterjemahkan, isinya sebagai berikut: 

   “Ketahuilah. Seyogyanya setiap Muslim yang mencari keutamaan dan kebaikan-kebaikan hendaknya mencari berkah-berkah, pemberian-pemberian, dan diijabahinya do’a dan turunnya rahmat-rahmat di hadapan para wali di majlis-majlis dan perkumpulan-perkumpulan mereka dalam keadaan hidup dan mati dan di sisi kubur-lubur mereka, dan ketika mengingat mereka, dan ketika banyak orang berkumpul menziarahi mereka, ketika peringatan-peringatan keutamaan mereka, dan penyebaran manaqib mereka. Selesai.”

    Jawaban Mu’tamar NU seperti itu tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah Islam. Pertama, tidak diteliti dulu, apa isi kitab Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani itu. Kedua, landasannya apa merujuk kepada kitab Jalaud-Zulam ‘Ala ‘Aqidatil Awam yang tidak menampilkan dalil itu. Ketiga, suruhan untuk mencari berkah kepada orang yang sudah mati dan di kubur-kuburnya, itu  landasannya apa. Nabi saw saja tidak dicari berkahnya (para sahabat tidak bertabarruk kepada beliau) setelah beliau wafat, apalagi kepada kuburnya. 


Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar